Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Hai penikmat Literasi Islami, semoga
Ramadhan kali ini memberikan kita semangat untuk mencapai “Rayyan” (pintu
Syurga), pintu yang disiapkan untuk orang-orang yang berpuasa, diriwatkan
Al-Bukhari dan Muslim dari Sahl Bin Saad, Nabi SAW Bersabda, Surga itu
mempunyai sebuah pintu yang dinamakan “ Ar-Rayyan” yang tidak memasuki pintu
itu selain orang-orang yang berpuasa,
dan di janjikan dengan menjumpai Allah Ta’ala pada balasan puasanya. Kemudian
dimanakah kedudukan puasa kita kali ini?, semoga kita semua mencapai
“Ar-Rayyan”.
Literasi Islami memberikan dua
pandangan terhadap kedudukan puasa, sebuah filosofi sederhana antara Ulat dan
Ular, kedua hewan ini adalah hewan melata, tahukah anda bagaimana Ulat dan Ular
berjalan?, mungkin cara kedua hewan ini berjalan hampir sama, tapi tentu ulat
terlihat lebih buruk dari pada ular, coba perhatikan adakah pencinta ulat?,
ataukah kita lebih sering mendengar pencinta Reptil?.
Dalam pelajaran biologi kita pasti
pernah mempelajari tentang metamorfosis, tapi anggaplah ulat yang hina dan
tidak di perdulikan keberadaanya itu menyadari akan dirinya yang hina, karena
kesadarannya kemudian dia berkeinginan merubah dirinya menjadi lebih baik, ulat
kemudian berpuasa, menahan diri dari lapar, haus dan menyendiri di balik
selimut kepompong, setelah sekitar dua minggu lamanya berpuasa didalam
kepompong si ulat kemudian keluar dari kepompong nya, tapi bukan sebagai ulat,
dia merubah wujud dan namanya menjadi kupu-kupu, yang awalnya adalah ulat,
berjalan di tanah dan menjijikan kini menjadi kupu-kupu , terbang dan indah.
Dalam ilmu biologi disebut metamorfosis, tapi secara tidak langsung kita sadar
bahwa selama berada di dalam kepompong ulat berpuasa, tidak makan dan tidak
minum.
Tak jauh berbeda dengan ulat, seekor
ular juga berpuasa beberapa hari menahan haus dan lapar untuk mengganti
kulitnya, setelah berpuasa dan mengganti kulitnya, hewan melata itu tetaplah
menjadi ular, tetap berjalan di tanah, dia tidak terbang setelah berpuasa untuk
mengganti kulitnya (metamorfosis), ular
tetaplah ular, namanya pun tak berubah, bahkan manusia pun tetap memandangnya
dengan rasa takut, mengerikan dan berbahaya, berbeda dengan ulat yang awal nya
lebih terhina dan terkesan menjijikan kini keberadaannya digadang-gadang akan ada tamu yang datang kerumah, entah dari
mana mitos itu, tapi begitulah orang tua katakan jika melihat kupu-kupu di
rumah, dengan puasa seekor ulat dapat merubah dirinya menjadi lebih baik dan
menjadi lebih berarti, ular juga berpuasa tapi hanya mampu mengganti kulitnya
dan tidak merubah apa pun dari bentuknya, karena itu ular terkadang sering di
jadikan kambing hitam dalam percakapan manusia “dasar ular!”
Di tahun 1442 H ini bagaimanakah
puasa kita?, dapat kah puasa seperti ulat sehingga setelah ramadhan akan
menjadi kupu-kupu, yang awalnya keberadaan kita diabaikan oleh masyarakat tapi
setelah
ramadhan kehadiran kita dinantikan di setiap jema’ah lima waktu, atau kita akan
berpuasa seperti ular?, yang awal nya mengerikan dan setelah ramadhan akan
kelihatan lebih mengerikan, keberadaan kita pun dicemaskan oleh masyarakat, dan
pada intinya puasa kita tak memberi perubahan setelah ramadhan yang kita lalui,
dan seperti yang sering kita dengar “hanya mendapatkan lapar dan haus”
كل حسنة بعشر امثالها الى سبعماءىة ضعف اﻻ الصيام فاءنه لى و انا اجزء به
“Tiap perbuatan baik pahalanya 10 kali sampai
kepada tujuh ratus kali selain daripada puasa, maka puasa itu adalah bagiku dan
aku akan membalasnya” (HR.Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah).
Begitulah perumpamaan puasa, tak disebut
pasti berapa pahalanya, hanya Allah SWT yang berhak atas pahala puasa, karena
puasa adalah antara manusia dan Allah Swt yang tahu. Karena tidak seorang pun
yang tau hari ini kita puasa atau tidak.
Semoga
tahun ini puasa kita dapat merubah kita menjadi pribadi lebih baik, dan
ramadhan menjadikan kita lebih bersinergi dalam menjalani kehidupan, semoga
“Ar-Rayyan” merindukan kehadiran kita memasuki pintunya, Alhamdulillah selesai
ringkasan singkat tentang filosofi puasa Ulat dan Ular yang saya kutip dari
tausiah ustadz Ali Hasan, S,Pdi tadi malam, ulasannya menarik saya untuk
mengangkat judul ini, semoga bermanfaat untuk kita semua dan khususnya saya
sendiri.
Assalamualaikum.wr.wb