Kalau
mengingat hari ibu, tepatnya hari ini, aku jadi teringat semasa di pondok
beberapa tahun silam, dari ribuan teman atau santri ada satu santri yang aku
ingin katakana paling keras kepala yang
aku kenal, tak perlu ku sebut namanya, anggap saja namanya Budi.
Dia mengaku sangat tidak suka pada
sosok ayahnya, bahkan kerap kali dia bermimpi menjadi sosok power ranggers
seperti tokoh film jepang anak-anak, Budi yang tengah bermimpi menjadi power
rangers sedang bertarung dengan sosok monster yang siap menghancurkan bumi, dan
yang mengagetkan adalah, si monster ternyata ayahnya sendiri, kebanyakan nonton
film hari minggu nih anak, atau lupa baca do’a sebelum tidur.
Bertepatan dengan hari ibu yang
katanya untuk memperingati ibu di seluruh dunia, timbul lah satu pertanyaan
aneh dari si budi, “kenapa ada hari ibu di dunia ini?”, saat itu kami sedang
berondok di gedung Al-Azhar karena tidak pergi ke masjid, seingatku itu waktu
ashar, hanya agar dapat olahraga lebih awal dari yang lain, untuk alas an yang
logis tapi tak bermoral Budi dan aku rela berondok di gedung papan yang penuh
meja dan bangku itu, separuh atasnya terbuka menghadap langit sebagai fentilasi
tanpa jerjak.
Mendengar pernyataan aneh itu sontak
aku terdiam, tapi ada sedikit kesal dalam hatiku, setahu ku dia hanya tak suka
pada ayahnya tapi kali ini kenapa hari ibu pun jadi masalah buatnya, spontan
aku menjawab “mungkin karena nabi bilang berbakti kepada ibumu 3 kali baru
ayahmu” tiba-tiba berhamburan santri-santri dari tangga-tangga masjid, kami pun
berlari secepat mungkin menuju asrama bergegas ganti baju olahraga.
Bagaimana kami tidak bahagia,
walaupun mala mini muhadharah tapi ini malam jum’at, tentu besok tanggal
merahnya pondok, hari jum’at menurutku hari paling dinanti semua santri, kami
duduk di kukhun usai muhadharah.
“Ente
Budi kenapa tak setuju ada hari ibu?” tanyaku perihal tadi siang,
“seperti
kata ente tadi siang, nabi Muhammad SAW pun mengingatkan kita berbakti kepada
ibumu sampai 3 kali baru ayahmu” jawabnya santai dengan gaya intelektualnya,
“Oh…maksud
ente harusnya ada 3 hari dalam setahun kita memperingati hari ibu?” jawabku
polos,
“Memang
otakmu baling ya!” jawabnya sambil terkekeh,
“aku
Cuma bias nulis bud, kalau mikir-mikir yang begitu loding ku lama” jawabku
membuat kami berdua terkekeh,
“Gini
ya,.. kita kan baelajar bahasa arab, sekarang aku mau nanyak, bahasa arabnya
buku apa?” Tanya Budi,
“Kitabun”
jawabku,
“Kalau
2 buku?” Tanya Budi,
“Kitabaani”
jawabku santai,
“Kalau
bukunya lebih dari 2?” Tanya Budi,
“Jama’
‘kutuubun’” jawabku masih santai,
“nah
itu pinter, kalau bukunya 4?” Tanya Budi lagi,
“Masih
menggunakan jama’ juga ‘kutuubun’” jawabku masih bingung,
“Makin
pinter, sekarang kamu tau kan kenapa nabi nyebut ibu sampai 3 x?” Tanya Budi
membuatku semakin bingung.
Perbincangan pun terhenti karena
Jaros berbunyi, sebelum tidur aku terus berfikir keras dengan pernyataan Budi
tadi yang sedikit liar, tapi lama-lama ku piker masuk akal juga, kalau nabi
mengingatkan untuk berbakti kepada ibu hanya sekali atau dua kali artinya masih
terbatas, tapi nabi sebutkan tiga kali ibumu….ibumu….ibumu…., emang benar sih
di dalam bahasa arab sesuatu yang melebihi dua disebut jama’, jama’ bias di
artikan banyak, banyak yang tak punya jumlah artinya tak terhingga, mungkin ini
ni asal muasal lagu “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa”.
“Terus
siapa yang punya ide memperingati hari ibu hanya satu hari, harusnya tiga hari
yakan Bud?” tanyaku dalam mimpi,
“Memang
dasar entek gak nyambung penulis gadungan hahahaha” jawab budi sambil terkekeh
dalam mimpiku.
Libasan
rotan di pahaku mendarat dari ustadz Mughni karena telat solat subuh………
Buat para pembaca maafkan
pikiran-pikiran liar saya ya, boleh dikoreksi di kolom komentar kok tulisan
saya hehe, buat seluruh ibu di dunia “I LOVE YOU”, terkhusus buat Bunda Adnen,
Mamak Kay dan Mama Ukasya.
machyar kami tunggu cerita hari ayah💪
BalasHapussiap bg
Hapus