Assalamualaikum teman-teman
semua, apa kabarnya hari ini?, subuh tadi saya dan bg Purnomo selesai membaca
kitab Ihya Ulumiddin bab Ilmu, kebetulan bg Kris terbentur dengan jadwal piket
nya di Kepolisian pagi ini dan berhalangan bergabung dengan kami subuh tadi,
kebiasaan kami sharing atau diskusi ilmu setiap pagi di mushola Al-Fajar bawah
titi, kegiatan ini kami mulai sejak sebulan yang lalu sebelum ramadhan, banyak
ilmu yang saya dapat dari bg Purnomo begitu pula yang saya dapat dari bg Kris
yang umur mereka berdua jauh di atas saya, kami bukan ahli ilmu, tapi kami
berusaha membincangkan tentang ilmu, missal kitab Ihya Ulumiddin yang baru
selesai kami diskusikan bab tentang ilmu tadi subuh, hanya diskusi sederhana di
dalam mushola, tapi punya nutrisi untuk kesehatan rohani, saya punya kesimpulan
sendiri tentang bab ilmu ini yang di tulis oleh imam Al Ghazali dalam kitab
Ihya Ulumiddin bahwa “penting nya ilmu sebagai landasan agar ibadah bukan hanya
sekedar quantitas tapi kualitas, bahwa ketika raka’at pertama pada sholat
dzuhur bukan berarti tiga raka’at lagi sholat dzuhur selesai kita kerjakan,
tapi bagaimana empat raka’at sholat dzuhur menjadi sholat dzhuhur terbaik pada
hari itu, untuk mencapai kualitas maka belajar!”, apa kira-kira tambahan
kesimpulan dari bg Purnomo dan bg Kris pada bab ilmu yang kita bahas?, isi di
kolom komentar ya……
Gak
nyambung! Judul nya Ayah No I Di Dunia? Baik lah saya coba ceritakan perlahan, sekitar
sepuluh tahun yang lalu saya mencoba menulis tentang Ayah No I Di Dunia, tapi
pena itu terhenti pada judulnya, saya bingung ingin menulis apa tentang sosok
ayah yang harus saya kagumi, daftar menjadi calon legislatife pun berkali-kali
gagal, di bilang ustadz juga tidak ustadz-ustadz kali, saat masih mondok saya
bingung ingin cerita apa tentang sosok Ayah No I Di Dunia?
Dipertengahan
ramadhan kemarin ayah memberikan saya wejangan singkat di mushola Al Fajar,
saat itu kami duduk bertiga bersama bg Purnomo dan lagi-lagi bg Kris ada jadwal
piket malam itu, kata Ayah “ilmu fiqih , tasawuf dan tauhid itu berjalan
berdampingan, contoh : jika kita di pukul atau di cederai seseorang maka kita
harus balas, jatuh pada qishas, begitu hukum fiqihnya, tapi belajar lah untuk
memaafkannya dan tidak perlu membalas jatuh pada tasawwuf, tetapi kita tidak
perlu membalasnya dan tak perlu memafkannya, karena yakin lah semua yang
terjadi di atas muka bumi itu semua karena kehendak dan ketetapan Allah SWT,
maka jatuh lah dia kepada tauhid” sulit untuk saya bisa paham kata-kata itu,
pun saya tidak memikirkan dan belum bisa mencerna dengan baik, kemudian saya
hiraukan wejangan itu.
Dapat
lah kami kabar kalau Ayah dapat jadwal khatib Idul Fitri di kampung kami
sendiri, walau sebelumnya ada tawaran khatib di kampung lain, tapi ibu
menyarankan untuk mengambil jadwal di kampung sendiri dengan alasan sesekali
berkhidmat di kampung sendiri, disetujui oleh ayah dan Badan Kemakmuran Mesjid
(BKM) kampung kami, tapi ada musibah unik di kampung, saya menyebutnya musibah
unik, tapi kejadiannya mengundang lelucon untuk yang bisa berfikir jernih,
malam itu diadakanlah rapat untuk panitia badan amil zakat fitrah tahun ini di
mesjid, disela rapat dengan penuh perdebatan dari A sampai Z yang seharusnya
membahas zakat fitrah sekarang topik nya lari entah kemana-mana dari mulai
qurban, konflik pribadi dan lain lain.
Sampai
khatib Idul Fitri pun jadi permasalahan, datang lah empat orang dalam rapat itu
yang mengatas nama kan masyarakat menyatakan ketidak setujuan nya kalau yang
menjadi khatib tahun ini itu Ayah, dengan alasan “masyarakat tidak setuju”, “inikan
kehendak BKM dan ayah” dan macam lain alasan, saya ingin jelasakan dulu empat
orang yang menjadi pintu provokasi untuk mengganti khatib di kampung agar bukan
Ayah yang khatib.
Yang
pertama orang yang menyatakan kiblat itu ada dua, ini provokator pertama yang
hutang nya pun belum selesai iya lunasi kepada Ayah dan Ayah tidak pernah
memintanya, kemudian orang yang membubarkan jama’ah yang ingin shalat tasbih
berjamaah di mushola dengan alasan shalat sendiri saja di rumah, kemudian
menghendaki anak perempuan nya membaca do’a setelah baca yasin tiga kali di
malam sholat tasbih itu, sedangkan disitu masih banyak jama’ah laki-laki yang
harusnya memimpin do’a, ini hanya soal adab, ini provokator kedua, kemudian
ketua DPM yang tinggal nya pun bukan di kampung kami tapi seolah merasa orang
yang harus di tuakan di kampung karena merasa itu kampung halamannya dari
kakek-kakek nya dulu, mungkin dia ingin balik pada sejarah historis, tidak
jelas motifnya, dan DPM itu jangan di tanyak artinya apa hanya ingin menjaga
kode etik dan jurnalistik, ini provokator ketiga, yang terakhir saya bingung
harus bilang dia ini apa, tapi sumbangsihnya hanya duduk-duduk di bawah pohon
cerry kesayangannya jika siang hari, jika hadir pada acara kemalangan membawa
dua mangkok bontot nasi yang harusnya jatahnya satu-satu. Itu lah background
provokator malam itu, di tambah bumbu-bumbu yang sepintas tiba-tiba sejalan
pemikirannya dengan mereka, saya tidak ingin menjelaskan panjang lebar
background ke empat anak-anak ini, karena sebenarnya tidak layak diceritakan.
Disela-sela
perdebatan, yang buat saya bingung adalah pihak BKM seolah terprovokasi dengan
empat orang tadi, sedang idul fitri kurang > 7 hari lagi, dan sudah di
tetapkan Ayah sebagai khatib, tapi BKM meluangkan waktunya mencari khatib
pengganti dan jika tidak dapat maka tetap Ayah yang khatib, dan yang saya ingin
tanyakan kira-kira bagaimana perasaan Ayah malam itu di permalukan di depan public
tanpa pembelaan dari BKM sebagaimana keputusan itu sudah di dengar banyak pihak
bahwa Ayah yang khatib, oh.. mungkin BKM tidak ingin ada keributan demi menjaga
ukhuwah, tidak sadarkah bahwa ada hati yang terluka?.
Saya
tidak ingin mencerikan lebih lanjut, karena setiap orang berhak punya
kesimpulan sendiri dalam kepalanya, dua hari sebelum idul fitri seluruh beras
fitrah di kumpulkan untuk bisa segera di bagikan kepada yang berhak
menerimanya, saya termasuk badan amil tahun ini, tapi saya yakin seyakin-nya
kalau Ayah tidak akan hadir ke mesjid pada malam pembagian zakat fitrah karena
merasa malu atau kecewa terhadap keputusan yang di tetapkan BKM, tapi dengan
bangganya saya malam itu Ayah hadir ke mesjid dengan tenang dan berbincang
dengan tenang dalam kondisi hati yang terluka, dan Ayah mengatakan kepada saya “kalaupun
nanti khatib di kampung ini, semua itu karena kehendak Allah SWT dan kalau pun
tidak itu juga ketetapan Allah SWT” bukankah itu wejangan yang pernah di
sampaikan kepada saya di mushola Al Fajar oleh Ayah?, ramadhan tahun ini saya
mendapat pelajaran berharga dari mulut dan prilaku Ayah, ya… benar dia Ayah No
I Di Dunia, ternyata wejangannya langsung dia contohkan malam itu bahwa ilmu
fiqh,tasawuf dan tauhid berjalan berdampingan.
Dan
ternyata di malam perdebatan itu ada orang dari kampung lain yang menelpon Ayah
dan meminta untuk bersedia jadi khatib di kampung mereka, setelah mendengar
penjelasan Ayah atas problem di kampung kami, lantas mereka berdo’a agar ayah
di tolak di kampung dan bersedia menjadi khatib idul fitri di kampung mereka,
terjawab lah sudah tentang Ayah No I Di Dunia yang berbekas di kepala
bertahun-tahun lamanya.
Mohon
maaf ini harus saya ceritakan, bukan ingin merendahkan suatu kelompok, tapi ini
penting semata-mata niat agar anak cucu kami nanti tau kalau kakeknya bukan
seperti yang mereka sangkakan, terima kasih semoga bermanfaat dan mendapat
ridho Allah SWT, sengaja kami tidak menyebutkan nama dan daerah untuk menjaga
kode etik dan jurnalistik, anggap saja kejadian ini terjadi di Negara Israel.