Malam itu aku terbangun, untuk
pertama kalinya di keheningan tanpa orang tua, itu hari pertama ku di pondok,
aku berfikir betapa buruk nya pondok saat itu untuk anak seusiaku, jujur saja
malam itu aku menangis melihat kami tak saling kenal yang tidur beralas kan
tikar tanpa orang tua, dan sampai sekarang jika mengingat hari itu aku juga
hampir menangis, ternyata sudah cukup lama waktu berlalu, tapi memori masih
selalu terbayang, ingin rasanya mengulang lagi tapi tak mampu, kuceritakan ini
untuk melampiaskan kerinduan pada hari hari yang telah berlalu di pondok yang
awal nya ku anggap hari buruk tapi justru menjadi hari yang sangat ku rindukan
(2007).
Saat pembagian kelas, kudapati
nama ku tercantum di kelas 1 F, wali kelas pertama saat di pondok Ustadz Irfan
Syahputra dari swiss (sawit seberang) begitu tutur beliau kepada kami saat
perkenalan di kelas, guru yang ramah dan cukup baik, begitu padatnya jadwal
kegiatan di pondok sampai-sampai banyak dari teman-teman ku yang tak betah, aku
pun demikian, tapi jika mengingat orang tua rasanya tak ingin mengecewakan
mereka, aku sangat tak suka dengan hari kamis, pagi harus ke sekolah, sambung
muhadhoroh sebelum zuhur, kemudian pramuka setelah dzuhur, hanya ada waktu sore
untuk untuk bebas, bisa berolah raga dan menyuci atau istirahat, aku memilih
berolah raga saat sore, tapi achhhhhh sial nama ku di masuk mahkamah bahasa
karena ada yang mendengarku berbahasa Indonesia yang dasar karena masih kelas
satu, gagal olah raga dan malamnya sambung lagi muhadhoroh.
Mata ku tertuju pada papan pengumuman di samping asrama Indonesia
1, akan ada perlombaan Lomba Pidato 3 Bahasa (LP3B), setiap santri boleh ikut
serta, ada tiga kriteria perlombaan bahasa dan kita hanya boleh memilih satu
bahasa saja, ada bahasa Arab, Inggris dan Indonesia, aku tertarik untuk
mengikuti perlombaan ini, malam itu langsung mendaftar di qismul lughah (bagian
bahasa), sesuai arahan jumat depan seleksi pertama, dalam waktu seminggu harus
mempersiapkan teks pidato untuk seleksi dan di periksa oleh qismul lughah,
bukan hal yang sulit karena sebelum masuk pondok aku sudah terbiasa menjadi
perwakilan sekolah untuk ikut serta dalam perlombaan pidato bahasa Indonesia.
Jumat itu muhadhoroh diganti
dengan seleksi lomba pidato, materiku sudah siap dan mental ku pun siap, di
gedung Al azhar siang itu wajah ku seketika berubah melihat saingan saingan
yang juga abang kelas ku membawa kan materinya yang begitu menarik dan juga
cara pembawaannya yang enak, mati lah aku yang hanya anak baru harus bersaing
dengam abang-abang kelas, tapi aku
merasa yang sudah punya pengalaman ketika di bangku SD terlalu optimis untuk
hal ini, ternyata tak semudah yang kubayangkan, aku tidak lulus seleksi, pun
tidak putus semangat, aku merasa wajar karena saingan ku sudah terlebih dahulu
belajar muhadhoroh, mereka yang lulus hari itu ternyata harus ikut seleksi
kedua untuk bisa tampil di panggung besar dan disaksikan seluruh santri dan
santri wati, suatu kebanggaan untuk kaum adam di pondok.
Hari perlombaan tiba, malam jumat
setelah sholat isha seluruh santri berbondong-bondong menuju Gedung Serba Guna,
aku bersama Latif, Rijal dan Sabri pun masuk ke Gedung itu, sejak malam itu,
melihat panggung yang begitu megah, aku merasa tahun depan aku akan ada di
atasnya, Latif,Rijal dan Sabri akan menonton ku dari bawah, santri wati pun
semua melirik ku dan kenal dengan ku dalam khayalku akan seperti itu tahun
depan, terus kuperhatikan bagaimana cara mereka berpidato di atas pentas
seperti sudah terlatih sekali mereka, terus ku perhatikan dan sedikit-sedikit
mempelajarinya, benar akhi Ikhwan yang menjadi saingan ku di seleksi pertama
menjadi juara satu di LP3B Bahasa Indonesia tahun itu, namanya cukup popular
setelah itu, dan itu aku tahun depan.
Hari terus berlalu,teman pun
bertambah semakin banyak dari daerah-daerah yang tak pernah ku dengar
sebelumnya, entah dari mana mereka berasal, tapi aku yakin mereka punya niat
yang baik, punya mimpi yang berbeda-beda, tahun itu aku terus belajar dan tak
lupa Panggung LP3B akan menanti ku ada di atas nya, aku sudah mulai menyiapkan
materi setahun sebelum perlombaan diadakan lagi, hari-hari rasanya semakin
cepat berlalu, itu pula yang kuharapkan agar LP3B segera di adakan lagi, karena
butuh waktu setahun untuk menanti hari itu.
Setahun setelahnya benar LP3B
kembali di buka, seperti biasa aku daftar di qismul lughah, tapi kali ini aku
sudah kelas 2 Tsanawiyah, begitu yakinnya aku sehingga ketika seleksi pertama
pikiran ku buyar dan materi yang sudah ku persiapkan berantakan, dengan rasa
kecewa aku pun tidak lulus seleksi untuk kedua kalinya, tapi tak membuat ku putus asa, aku merasa ada
yang kurang, mungkin materi yang kubawakan terlalu biasa, tapi setelah LP3B
tahun itu, aku menyiapkan materi yang lebih menantang, dalam hati “mungkin
belum tahun ini, tapi tahun depan”.
Ternyata hari-hari di pondok
begitu menantang, bisa lolos dari kejaran qismul amni (bagian keamanan) karena
telat ke mesjid atau berpura-pura sakit di kamar, dapur yang tertib yang bagian
dapur nya tidak akan memulai makan sebelum semua nya diam dan tak ada suara
satu pun, bagaimana bisa mendiamkan ribuan orang dengan pengurus yang hanya
beberapa orang saja, ternyata ancamannya makan tidak akan di mulai sebelum
semua diam, setelah semua diam mulailah “bismillahirrahmanirrahim” diikuti
seluruh santri untuk membaca do’a sebelum makan dan semua makan, mudah kan
untuk menenangkan ribuan orang.
Suatu hari dikelas aku bertemu
dengan guru fisika yang begitu cantik, sekarang aku tidak ingat namanya, tapi
hari itu dia guru baru yang mengajar fisika di kelas ku, sejak hari itu aku
mulai suka dengan pelajaran fisika, aneh nya setelah bertahun-tahun entah
kenapa hari ini aku mulai suka dengan fisika, guru itu yang ku panggi ustadzah
selain paras yang cantik juga punya cara mengajar yang unik dan begitu ramah,
hari-hari berikutnya ustadzah itu bercerita tentang rumus kecepatan, dan
katanya menurut Albert Enstein kecepatan yang paling cepat adalah cahaya,
kemudian di contohkan oleh ustadzah dengan mengetek –ngetek tombol lampu, membuat ku penasaran jika
kecepatan yang paling cepat adalah cahaya kemudian bagaimana nabi SAW isra’ dan
mi’raj dalam waktu semalam, saat ini aku sudah kelas 3 Tsanawiyah, kata orang
masa puber, mungkin iya makanya di otak ku penuh dengan pertanyaan, tak sempat
bertanya bel berbunyi pertanda jam pelajaran selesai, jam istirahat ku
beranikan diri menghampiri ustadzah itu sendiri di kantornya bertanya bagaimana
Enstein mengklaim kecepatan cahaya adalah yang paling cepat sedang nabi SAW
isra’ dan mi’raj dengan buraq, sambil senyum manis ustadzah itu merogoh tas nya
dan meminjamkan sebuah buku fisika tentang Albert Enstein.
Aku mulai terfikir tentang sebuah
judul untuk materi ku tahun ini, “ENSTEIN DALAM AL QURAN”, tapi aku harus butuh
waktu panjang untuk mempelajari buku ini, ada rumus yang tak bisa ku jelaskan
disini bahwa ada yang lebih cepat dari cahaya, yaitu apabila masa terabaikan,
oleh karenanya Isra’ Mi’raj tak terbantahkan kebenarannya, tapi ada rumus juga
yang tak ingat untuk kujelaskan, setelah berusaha untuk waktu yang lama,
menemukan sebuah judul yang menarik dan akhirnya waktu itu tiba, penantian
selama setahun, obsesi untuk naik ke panggung besar, gagal di tahun pertama dan
kedua, tapi kali ini harus bisa, akhirnya aku lolos seleksi pertama, tak lama kemudian
aku pun lolos di seleksi kedua, sialnya tahun ini karena terlalu banyak yang
mendaftar akhirnya ada seleksi ketiga ,dan dengan penuh keyakinan aku siap dengan
optimis karena judul yang ku persiapkan setahun sebelum perlombaan, ustadz yang
menjadi juri semua terpukau dan memuji judul dan isi materiku, tapi semua orang
juga tau kalau itu saja belum cukup, pembawaan yang masih kurang baik, tapi
akhirnya kalian tahu? Di tahun ketiga pun panggung itu belum ku taklukan , poin
sedikit kurang dari teman seangkatan ku, kata ustadz itu, pembawaan yang masih
kurang.
Malam itu benar aku kecewa
dan hari LP3B pun di mulai, di kejauan kulihat panggung itu serasa
megah, di tambah gedung ruqoyyah yang mnyelimutinya, tahun ini LP3B di adakan
di luar gedung serba guna, aku hanya bisa melihat singa singa mimbar di
kerumanan santri yang menonton .
Bersambung…..