Selasa, 10 Mei 2022

AYAH NO I DI DUNIA

                Assalamualaikum teman-teman semua, apa kabarnya hari ini?, subuh tadi saya dan bg Purnomo selesai membaca kitab Ihya Ulumiddin bab Ilmu, kebetulan bg Kris terbentur dengan jadwal piket nya di Kepolisian pagi ini dan berhalangan bergabung dengan kami subuh tadi, kebiasaan kami sharing atau diskusi ilmu setiap pagi di mushola Al-Fajar bawah titi, kegiatan ini kami mulai sejak sebulan yang lalu sebelum ramadhan, banyak ilmu yang saya dapat dari bg Purnomo begitu pula yang saya dapat dari bg Kris yang umur mereka berdua jauh di atas saya, kami bukan ahli ilmu, tapi kami berusaha membincangkan tentang ilmu, missal kitab Ihya Ulumiddin yang baru selesai kami diskusikan bab tentang ilmu tadi subuh, hanya diskusi sederhana di dalam mushola, tapi punya nutrisi untuk kesehatan rohani, saya punya kesimpulan sendiri tentang bab ilmu ini yang di tulis oleh imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin bahwa “penting nya ilmu sebagai landasan agar ibadah bukan hanya sekedar quantitas tapi kualitas, bahwa ketika raka’at pertama pada sholat dzuhur bukan berarti tiga raka’at lagi sholat dzuhur selesai kita kerjakan, tapi bagaimana empat raka’at sholat dzuhur menjadi sholat dzhuhur terbaik pada hari itu, untuk mencapai kualitas maka belajar!”, apa kira-kira tambahan kesimpulan dari bg Purnomo dan bg Kris pada bab ilmu yang kita bahas?, isi di kolom komentar ya……

                Gak nyambung! Judul nya Ayah No I Di Dunia? Baik lah saya coba ceritakan perlahan, sekitar sepuluh tahun yang lalu saya mencoba menulis tentang Ayah No I Di Dunia, tapi pena itu terhenti pada judulnya, saya bingung ingin menulis apa tentang sosok ayah yang harus saya kagumi, daftar menjadi calon legislatife pun berkali-kali gagal, di bilang ustadz juga tidak ustadz-ustadz kali, saat masih mondok saya bingung ingin cerita apa tentang sosok Ayah No I Di Dunia?

                Dipertengahan ramadhan kemarin ayah memberikan saya wejangan singkat di mushola Al Fajar, saat itu kami duduk bertiga bersama bg Purnomo dan lagi-lagi bg Kris ada jadwal piket malam itu, kata Ayah “ilmu fiqih , tasawuf dan tauhid itu berjalan berdampingan, contoh : jika kita di pukul atau di cederai seseorang maka kita harus balas, jatuh pada qishas, begitu hukum fiqihnya, tapi belajar lah untuk memaafkannya dan tidak perlu membalas jatuh pada tasawwuf, tetapi kita tidak perlu membalasnya dan tak perlu memafkannya, karena yakin lah semua yang terjadi di atas muka bumi itu semua karena kehendak dan ketetapan Allah SWT, maka jatuh lah dia kepada tauhid” sulit untuk saya bisa paham kata-kata itu, pun saya tidak memikirkan dan belum bisa mencerna dengan baik, kemudian saya hiraukan wejangan itu.

                Dapat lah kami kabar kalau Ayah dapat jadwal khatib Idul Fitri di kampung kami sendiri, walau sebelumnya ada tawaran khatib di kampung lain, tapi ibu menyarankan untuk mengambil jadwal di kampung sendiri dengan alasan sesekali berkhidmat di kampung sendiri, disetujui oleh ayah dan Badan Kemakmuran Mesjid (BKM) kampung kami, tapi ada musibah unik di kampung, saya menyebutnya musibah unik, tapi kejadiannya mengundang lelucon untuk yang bisa berfikir jernih, malam itu diadakanlah rapat untuk panitia badan amil zakat fitrah tahun ini di mesjid, disela rapat dengan penuh perdebatan dari A sampai Z yang seharusnya membahas zakat fitrah sekarang topik nya lari entah kemana-mana dari mulai qurban, konflik pribadi dan lain lain.

                Sampai khatib Idul Fitri pun jadi permasalahan, datang lah empat orang dalam rapat itu yang mengatas nama kan masyarakat menyatakan ketidak setujuan nya kalau yang menjadi khatib tahun ini itu Ayah, dengan alasan “masyarakat tidak setuju”, “inikan kehendak BKM dan ayah” dan macam lain alasan, saya ingin jelasakan dulu empat orang yang menjadi pintu provokasi untuk mengganti khatib di kampung agar bukan Ayah yang khatib.

                Yang pertama orang yang menyatakan kiblat itu ada dua, ini provokator pertama yang hutang nya pun belum selesai iya lunasi kepada Ayah dan Ayah tidak pernah memintanya, kemudian orang yang membubarkan jama’ah yang ingin shalat tasbih berjamaah di mushola dengan alasan shalat sendiri saja di rumah, kemudian menghendaki anak perempuan nya membaca do’a setelah baca yasin tiga kali di malam sholat tasbih itu, sedangkan disitu masih banyak jama’ah laki-laki yang harusnya memimpin do’a, ini hanya soal adab, ini provokator kedua, kemudian ketua DPM yang tinggal nya pun bukan di kampung kami tapi seolah merasa orang yang harus di tuakan di kampung karena merasa itu kampung halamannya dari kakek-kakek nya dulu, mungkin dia ingin balik pada sejarah historis, tidak jelas motifnya, dan DPM itu jangan di tanyak artinya apa hanya ingin menjaga kode etik dan jurnalistik, ini provokator ketiga, yang terakhir saya bingung harus bilang dia ini apa, tapi sumbangsihnya hanya duduk-duduk di bawah pohon cerry kesayangannya jika siang hari, jika hadir pada acara kemalangan membawa dua mangkok bontot nasi yang harusnya jatahnya satu-satu. Itu lah background provokator malam itu, di tambah bumbu-bumbu yang sepintas tiba-tiba sejalan pemikirannya dengan mereka, saya tidak ingin menjelaskan panjang lebar background ke empat anak-anak ini, karena sebenarnya tidak layak diceritakan.

                Disela-sela perdebatan, yang buat saya bingung adalah pihak BKM seolah terprovokasi dengan empat orang tadi, sedang idul fitri kurang > 7 hari lagi, dan sudah di tetapkan Ayah sebagai khatib, tapi BKM meluangkan waktunya mencari khatib pengganti dan jika tidak dapat maka tetap Ayah yang khatib, dan yang saya ingin tanyakan kira-kira bagaimana perasaan Ayah malam itu di permalukan di depan public tanpa pembelaan dari BKM sebagaimana keputusan itu sudah di dengar banyak pihak bahwa Ayah yang khatib, oh.. mungkin BKM tidak ingin ada keributan demi menjaga ukhuwah, tidak sadarkah bahwa ada hati yang terluka?.

                Saya tidak ingin mencerikan lebih lanjut, karena setiap orang berhak punya kesimpulan sendiri dalam kepalanya, dua hari sebelum idul fitri seluruh beras fitrah di kumpulkan untuk bisa segera di bagikan kepada yang berhak menerimanya, saya termasuk badan amil tahun ini, tapi saya yakin seyakin-nya kalau Ayah tidak akan hadir ke mesjid pada malam pembagian zakat fitrah karena merasa malu atau kecewa terhadap keputusan yang di tetapkan BKM, tapi dengan bangganya saya malam itu Ayah hadir ke mesjid dengan tenang dan berbincang dengan tenang dalam kondisi hati yang terluka, dan Ayah mengatakan kepada saya “kalaupun nanti khatib di kampung ini, semua itu karena kehendak Allah SWT dan kalau pun tidak itu juga ketetapan Allah SWT” bukankah itu wejangan yang pernah di sampaikan kepada saya di mushola Al Fajar oleh Ayah?, ramadhan tahun ini saya mendapat pelajaran berharga dari mulut dan prilaku Ayah, ya… benar dia Ayah No I Di Dunia, ternyata wejangannya langsung dia contohkan malam itu bahwa ilmu fiqh,tasawuf dan tauhid berjalan berdampingan.

                Dan ternyata di malam perdebatan itu ada orang dari kampung lain yang menelpon Ayah dan meminta untuk bersedia jadi khatib di kampung mereka, setelah mendengar penjelasan Ayah atas problem di kampung kami, lantas mereka berdo’a agar ayah di tolak di kampung dan bersedia menjadi khatib idul fitri di kampung mereka, terjawab lah sudah tentang Ayah No I Di Dunia yang berbekas di kepala bertahun-tahun lamanya.

                Mohon maaf ini harus saya ceritakan, bukan ingin merendahkan suatu kelompok, tapi ini penting semata-mata niat agar anak cucu kami nanti tau kalau kakeknya bukan seperti yang mereka sangkakan, terima kasih semoga bermanfaat dan mendapat ridho Allah SWT, sengaja kami tidak menyebutkan nama dan daerah untuk menjaga kode etik dan jurnalistik, anggap saja kejadian ini terjadi di Negara Israel.

Senin, 15 November 2021

UJUNG TITI TAMIANG (LINTAS IKRH)

 

Malam hampir gerimis, sekitar pukul sebelasan malam kami baru mulai beranjak dari meja bundar di Wd Coffee usai berbincang panjang sambil bernostalgia, Akhi Ir dan Komandan Ginting pulang dengan Innova hitam bersama Alumni ke 5 dari Pondok, beliau konsulat Aceh Tenggara, datang ke Tamiang sekaligus silaturahmi, khas dengan gaya berbicaranya, usulnya yang memotivasi, politik yang kadang-kadang di pamerkan dan di ajarkan kepada kami, pertemuan penuh wawasan, menimbulkan banyak ide untuk IKRH di Aceh Tamiang dan Langsa, IKRH Aceh Wilayah Timur kalah jauh dengan mereka para IKRH yang ada di Aceh Tenggara, begitulah kira-kira inti pembicaraannya.

Sanger dingin yang tak begitu sedap membuat ku harus mencari secangkir kopi lagi untuk ku seruput, malam itu bersama Azmi kami memutuskan singgah di kedai kopi milik salah satu anak IKRH di ujung Titi Aceh Tamiang yang sebelum nya aku tak kenal dengannya, ternyata adik kelas, dia pun samar-samar mengenal ku saat kami berkunjung ke kedai nya, sampai harus menebak dengan tebakan yang pesimis, “Abang anak Bola ya waktu di Pondok?” dengan lantang ku jawab “Bukan lah, abang pemain Takraw”, seingatku perjalanan ku di olahraga Takraw juga tak mudah, hampir-hampir seperti perjuangan LP3B, lain waktu akan kuceritakan.

Renaldi pemilik kedai itu sudah dahulu mengenal Azmi, dan Azmi pun yang membawa ku kemari untuk silaturahmi, duduk di depan staling sederhana dengan rak-rak yang penuh dengan segala jenis macam kopi, aku minta di buatkan kopi madu, kebetulan madu sedang tidak ada stok, kemudian dia menawarkan kopi filteran yang jadi recommended nya, ntah apa yang di jelaskan tentang kopi itu, tapi caranya  menjelaskan mewarnai pengetahuan ku tentang kopi, begitu menarik cara dia untuk menjelasakan, kemudian kopi itu di hidang kan untuk porsi tiga orang, saat ku seruput kopi itu terasa biasa saja, hanya seperti kopi disiram air panas, tapi setelah kopi itu melewati kerongkongan rasanya berbeda, kopi itu mulai terasa, aku merasa minum kopi berkelas malam ini, obrolan pun semakin asik sampai larut.

Aku mulai berfikir sebenarnya kita bisa menyeimbangi IKRH Aceh Tenggara secara bertahap, seperti yang diceritakan akhi Samri (Alumni ke 5) IKRH Aceh Tenggara punya basecamp tempat mereka berkumpul dari yang tua sampai yang muda, bermodalkan kedai kopi, dari IKRH untuk IKRH, sehingga semua disitu merasa punya rumah, aku berharap IKRH Wilayah Timur punya ambisi seperti itu, kita punya alumni yang sedang pasca sarjana di IPB, dia bisa membantu membuatkan bisnis plan untuk IKRH, kita punya alumni yang pengetahuannya tentang kopi begitu luas, kita punya Barista yang berpengalaman yang ingin pulang ke Wilayah Timur, dan kita punya IKRH yang rasa-rasanya cukup secara financial untuk membantu membuat rumah untuk IKRH, walau dalam bentuk bisnis, tapi gagasannya adalah silaturahmi, membantu perekonomian warga IKRH yang lain, dari IKRH untuk IKRH, achhhhhh ternyata itu hanya khayalan ku setelah menyeruput kopi buatan IKRH di ujung titi Tamiang. (V60)



Minggu, 31 Oktober 2021

TRUE STORY (LAST PART)

             Semua peserta bersiap di belakang panggung, berharap bisa menampilkan yang terbaik dan mampu memegang gelar juara tahun ini, tapi aku sudah sangat bangga walau tak memegang piala, cinta ku pada panggung ini, empat tahun sudah kulewati setiap tahunnya dengan kegagalan dan akhirnya, pun tercapai berdiri diatas belum tentu sebagai juara, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing di belakang panggung, kali ini dengan baju koko putih dan celana keper hitam tambah peci hitam di atas kepala, tak lupa sorban yang ku selempangkan di atas bahu, berjalan maju dan mundur sambil memegang kertas mencoba mengulang mengulang materi.

                Penampil pertama mulai berpidato, dengan gaya Zainuddin MZ lantang dengan khas suara serak seraknya, percis gaya suara sang legenda yang agak di berat-beratkan, aku tersadar satu hal, tahun-tahun yang lalu aku terlalu memaksakan diri mengikuti gaya ceramah ustadz-ustadz di Televisi, tapi tahun ini dengan pasrah putus asa ku seolah bercerita dengan gaya ku sendiri di atas panggung, aku mulai tersadar dengan satu kesalahan, dan menjadi evaluasi terbaik tahun ini.

                Berlangsung lagi peserta nomor dua dari bahasa arab, menunjukan keindahan sastra bahasa, kadang terlihat gugup, sedikit sedikit terlupa teks yang kulihat dia menghafal begitu serius di belakang panggung, aku mulai tersadar satu hal lagi, panggung ini bukan tentang teks, tapi ini tentang hati, perlahan kertas itu ku remas menjadi bola sampah, kubuang ke tempat sampah di depan kelas, mulai bercerita dan bercanda dengan panitia yang lain, aku tak peduli lagi dengan teks itu, aku ingin sampaikan apa yang ingin kusampaikan, sudah cukup teks itu kujaga berhari-hari, kali ini aku ingin kelihatan nyata, bukan menghafal teks, evaluasi kedua tahun ini.

                Mereka tampil satu persatu, tak ku perhatikan penampilan mereka, aku asik bercanda di belakang panggung sambil mengulang –ulang latihan dance untuk penampilan nanti sebagai penutup, sampailah waktu nya giliran ku tampil sebagai penampil terakhir malam itu, aku bersiap nama ku di sebut, semua teman ku bersorak memberi dukungan dan aku mulai semakin gugup, perlahan naik ke atas panggung, sejenak terdiam, dengan santai ku ambil pengeras suara, berdiri menatap kedepan, tak satupun kulihat mereka, seperti kosong, seolah tak ada yang menonton, malam itu hanya ada satu orang yang kulihat, dia juri yang duduk di tengah, Ustadz Azmi Rauf yang menjadi objek ku malam itu.

                Mulai membuka suara perlahan, membuka suasana dengan pantun sederhana, hanya membahas sesuatu yang sederhana, yang sederhana untuk dipahami, dan disampaikan secara sederhana, sederhana dengan hati sederhana, menampilkan kejujuran dari karakter diri sendiri, kejujuran adalah kesederhanaan yang mewah, begitulah suasana malam itu, jujur pada diri sendiri, berbicara dengan hati, bahkan aku tak perduli dengan teks, di terakhir penampilan ku jatuhkan lutut bersentuhan dengan panggung, kutadahkan tangan ke atas seiring bernyanyi syair Abu Nawas yang sering kami lantunkan di mesjid sebelum Adzan Maghrib, tak perduli dengan suasana hati mereka tapi inilah aku, kututup dengan salam dan jawaban yang cukup meriah serta tepukan tangan yang serentak.

                Turun dari panggung langsung mengganti kostum untuk penampilan kami dance sebagai hiburan penutup sebelum pengumuman pemenang, aku tidak begitu tegang dengan hasil pengumuman, aku merasa puas dengan apa yang telah ku sampaikan, tapi takdir berkata lain, dengan bangga nya malam itu kusampaikan, aku sempat berpose sambil memegang piala juara tiga malam itu, senyum manis dengan kostum kemeja hitam, Abdan Syukri yang di malam seleksi mendapat nilai nomor satu tapi di panggung LP3B dia mendapat nilai terkahir dan aku terpaksa berdiri di podium nomor tiga, sungguh keadaan yang tak kuduga sebelumnya.

                Sekitar sepuluh tahun lalu itu menjadi momen yang paling kurindukan, dan atas dasar hari ini momen itu menjadi hal terburuk dalam hidupku, sepuluh tahun yang lalu sempat punya obsesi dan mimpi bisa berdiri di atas panggung besar tapi itulah awal dari penyesalan, aku pernah bermimpi, tapi mimpi itu terhenti di panggung itu karena niat yang hanya ingin berdiri di panggung itu, kepuasan yang terlampau membuat ku lupa bahwa panggung yang sesungguhnya adalah dakwah seumur hidup sebagai seorang santri, kemudian mimpi itu sirna karena kepuasan yang terlalu kecil, sebagai evaluasi tahun ini setelah sepuluh tahun adalah, bermimpi lah mulai hari ini untuk mengalahkan dirimu sendiri, jangan pernah bermimpi untuk berlomba sehingga kau menang dan dia kalah.





Minggu, 17 Oktober 2021

TRUE STORY (PART III)

             Novel Habiburrahman El-Shirazy begitu indah karya yang disampaikan, cerita tentang obsesi Pemuda pada Titisan Cleopatra, sampai harus mengecewakan gadis asli bumi asri, wajahnya yang baby face terabaikan oleh obsesi sang pemuda yang tergila-gila pada gadis Mesir, Judulnya “Titisan Cleopatra” di sela-sela kesibukan aku gemar membaca novel-novel Habiburrahman El-Shirazy, Malam ini selesai novel itu ku baca, kulihat teman-teman terlelap berserakan di atas lantai, di sepertiga malam kupanjatkan dua do’a saja, memohon bisa lulus pada LP3B kali ini dan berharap bisa menulis seumur hidup.

                Siang ini aku tak ikut latihan untuk pertunjukan di LP3B, kucari kelas kosong yang jauh dari keramaian, mulai kulatih mulut terbata-bata menghafal teks pidato, perlahan suara ku lantang mulai bercerita pada bangku dan meja seolah itu bernyawa, ketika terdengar suara telapak kaki dari depan kelas suara ku mulai hening karena malu jika santri lain melihat ku sedang latihan, ternyata adik kelas, sambil berjalan melewati kelas, kami saling tatap-tatapan, aku di dalam kelas dan dia di luar kelas dari sela-sela jendela wajah polos dengan penuh keheranan menunjukan isi hati mungkin sedang bertanya “ngapain akhi ini disini ya?”, ataupun dia khawatir kalau aku akan melaporkan pada mudabbirnya (pengurus asrama) karena pergi menuju kelas kosong sedang waktu kemesjid sudah tiba untuk melaksanakan sholat ashar.

                Esok hari seleksi akan dimulai, kusiapkan mental hari ini untuk bisa menerima kenyataan, apapun yang  terjadi besok aku berharap bisa menerima dengan lapang dada bahwa itulah aku, banyak yang memberi dukungan dan ada juga yang pesimis , tapi mereka semua teman yang baik, teman yang aku rasa tak pernah kudapat jika bukan karena sekolah di Pondok, walaupun kadang pernah selisih paham sampai-sampai  beradu otot di mujaffaf (tempat jemuran), misal Rijal dan Fauzi harus selesaikan dua ronde dalam satu hari dan kami hanya bersorak sambil memanas-manasi satu sama lain, yah begitulah kadang-kadang kejahilan kami.

                Hari pun tiba, hari yang mengukir kisah ku hari ini, hari yang sekarang sedang ku ceritakan, selalu lulus di seleksi pertama dan kedua , yang paling menegangkan ketika harus seleksi untuk naik ke panggung besar, pun Abdan Syukri berhasil lolos di ruangan sebelah, ada enam peserta yang lolos untuk ikut ke seleksi terakhir, dan besok malam adalah penentuannya. Mereka keluar ruangan seleksi dengan penuh cerita, lima orang itu aku kenal semua hebat hebat dan hanya aku yang bukan dari kelompok mereka (Oriskor), tak butuh waktu lama untuk sampai ke asrama dan langsung bergegas mencari ketenangan di malam hari sambil berlatih untuk persiapan esok.

                Enam orang di satukan dalam satu ruangan seperti Muhadhoroh biasa, ada penonton dengan jumlah terbatas, kemudian pembawa acara membuka acara, yang membedakan ialah ada tiga orang ustadz yang  bertugas memberi  nilai, sialnya aku mendapat tampil di urutan pertama, sungguh nomor urut yang tak ku harapkan, setidaknya bisa tampil di pertengahan itu mungkin membuatku lebih tenang, tak berfikir panjang langkah maju ke depan, memakai kemeja lengan panjang rapi dimasukan kedalam celana keper, dasi kotak-kotak hitam putih sesuai dengan warna baju dan celana, dengan sepatu haibah (Van Toufel) yang baru ku semir, tak lupa peci yang lengket di kepala dan ada papan nama di atas kantong baju sebelah kiri, kusampaikan teks itu dengan hati-hati, kata demi kata yang kususun rapi hanya lima belas menit selesai kusampaikan isi kertas putih itu, kemudian urutan nomor dua tampil disusul nomor tiga sampai selanjutnya.

                Abdan Syukri tampil di urutan terakhir dan menjadi penutup dari penampilan kami malam itu, detik-detik menegangkan pun tiba, lima peserta telah di sebutkan nilainya dan Abdan Syukri mendapat nilai tertinggi malam itu, jelas dia akan menuju panggung LP3B minggu depan, hanya ada empat orang yang akan lolos dari enam peserta, dan nilaiku belum lagi di sebutkan karena ada ustadz lain datang dan membisikkan sesuatu kepada ustadz Tarmidzi yang sedang mengumumkan nilai, hati ini bergetar rasanya berharap ustadz itu cepat pergi, ntah apa yang dibisikkan, sepertinya sesuatu yang penting, tapi nilaiku lebih penting, berharap mendapat nilai di atas Abdan Syukri, akhirnya ustadz itu pergi, pengumuman nilai di lanjutkan, nilaiku berada di posisi empat dan cukup untuk memenuhi syarat tampil di panggung LP3B, Alhamdulilah masuk di empat besar walaupun nilai paling terakhir.

                Akhirnya impian itu tercapai walaupun belum sebagai juara, setidaknya bisa tampil di atas panggung itu minggu depan, hatiku kegirangan sebagai posisi terkahir, nanti pun akan hanya ada tiga juara di panggung itu, sepertinya harapan untuk mendapat juara sangat berat jika di lihat saingan yang lain begitu hebat, empat tahun hanya untuk panggung itu dan akhirnya tidak sia-sia, hanya menanti satu minggu untuk aku bisa di lihat banyak orang, aku terus berlatih penuh salama satu minggu , walaupun belum tentu juara setidaknya tidak memalukan, teks itu terus ku hafal.

                Panggung itu megah dari kejauhan, kerumunan santri mulai berdatangan, duduk diantara dua pembatas kain antara santri dan santriwati, panitia sibuk di belakang pentas pun aku yang juga panitia sekaligus peserta lebih sibuk pada diriku, beruntungnya penampilan kami di akhir acara sebagai hiburan, ustadz dan ustadzah mulai berdatangan, sebagian duduk di depan dan sebagian lagi pada tugas nya masing masing untuk memantau santri-santri, lima orang ustadz menuju kedepan  sebagai juri pada malam itu, malam yang gelap tapi indah dengan lampu warna warni di panggung, hiasan taman panggung yang di dekor sedemikian terkonsepnya, panitia putri mulai membuka acara dengan tarian persembahan,pembacaan ayat suci Al-Qur’an,  masuk kata-kata sambutan dari ketua panitia dan direktur Pondok, pembawa acara mulai mengumumkan ururtan tampil, aku sebagai penampil terakhir malam itu….



Sabtu, 02 Oktober 2021

TRUE STORY (PART II)

 

                         Gedung itu belum lagi siap, dari tangga yang masih berserakan batu-batuan krikil, semen yang masih kasar ku panjat pelan tangga per tangga, dalam kegelapan langkah itu mantap sampai ke lantai tiga, terlihat kerumunan santri di bawah sedang beraktifitas, jalan raya di seberang pndok terlihat seperti kebebasan, begitulah suasana malam ku di pondok, mencari kesunyian untuk bercerita pada asap-asap yang mengepul tanpa terlihat oleh keramaian.

                        Duduk di sebelah ku Naufal yang biasa di sapa Bonet, Sahabat ku dalam gelap, hampir setiap malam kami manjat ke gedung itu, duduk bercerita tentang hidup masing masing, Naufal dengan masa kelamnya, selamat dari Tsunami 2004 di Aceh, tapi sayang ibunya harus kembali pada sang pencipta tahun itu, menurut ceritanya dia terlepas dari genggaman ibu dan adiknya, terombang ambing hingga tak sadar diri, saat sudah sadar terlihat mayat berserakan, Bonet kecil tersangkut di atas sebuah tiang tinggi, cerita tentang nya panjang, dan rumit untuk di ceritakan, sungguh anak yang malang.

                        Malam sudah semakin larut, saat semua sudah tidur kami baru perlahan turun dari gedung itu, Naufal dengan masa kelamnya tapi selalu ceria, dan aku dengan ambisi yang membara tapi sedikit cemas, bagaimana aku tidak cemas, sudah tiga kali Lomba Pidato 3 Bahasa pun belum berhasil melumpuhkan saingan saingan ku, kami berpisah jalan dengan Naufal di kamar mandi, aku ke arah Indonesia dan Naufal ke Saudi agar tak di curigai dan ketahuan bagian keamanan kalau kami belum tidur, bukan Negara tapi itu hanya nama asrama putra di pondok ku.

                        Semangat yang biasa membara perlahan hanyut terbawa oleh suasana, persiapan menghadapi UN hanya tinggal hitungan hari, aku harus fokus pada ujian terlebih dahulu, LP3B sekarang menjadi nomor dua bahkan kadang terlupakan dengan kegiatan yang padat, di sela-sela sore aku rutin berolah raga sepak takraw bersama Rijal, berharap bisa keluar ikut POSPEDASU pekan olah raga antar pondok se Sumatra Utara, ini cerita lain, sekarang yang terpenting harus lulus Ujian Nasional dan yang lebih menyeramkan lagi adalah Ujian Pondok.

                        Ujian pondok bagai akhir dari segalanya jika di pondok, bagi yang pernah nyantri pasti pernah merasakan suasana ujian akhir di pondok yang menegangkan, harus melewati ujian lisan terlebih dahulu kemudian ujian tertulis, akhir yang menentukan keberlangsungan hidup di pondok, tapi bukan sebuah kesombongan untuk anak sepertiku, rasanya menjawab soal itu lebih mudah dari pada harus tampil di atas panggung LP3B, aku tak pernah mudif masal (dipanggil orang tua karena nilai di bawah lima) sudah tiga tahun di pondok nilai ku terus jayyid (baik), dalam hati berkata “menjawab soal ujian lebih mudah dari menaklukan panggung lp3b”.

                        Benar ujian itu rasanya lebih mudah, lagi-lagi aku duduk di kelas F, ya sesuailah untuk otak pas-pasan sepertiku, di kelas 4 ini lebih bnyak kegiatan, dari mulai menjadi panitia nudzul qur’an, panitia ini panitia itu, di tambah lagi menjadi mudabbir untuk mengurus asrama, hari-hari yang makin melelahkan, padatnya kegiatan membuat ku lupa pada ambisi untuk berdiri di panggung LP3B.

                        Saat semangat itu mulai padam, kini aku di hadapkan kembali pada LP3B, tapi kali ini sebagai panitia, disitu aku pada bagian hiburan atau pertunjukan, ya biasalah dance dance biasa joget-joget ala india di iringi musik-musik yang saat itu sudah keren sekali, hampir setiap sore kami latihan untuk penampilan kami yang terpilih sebagai bagian  memeriahkan acara, semua sibuk pada kepanitiaan nya masing-masing, teman seangkatan ku ‘abdan syukri mendaftar di LP3B sebagai peserta, ‘abdan anak dari intensive yang kini kami seangkatan dan sama-sama menjadi panitia, aku mulai berfikir kenapa aku kalah dengan anak yang baru saja dua tahun di pondok, sedangkan aku sudah empat tahun, tak mau kalah aku pun mendaftar sebagai peserta, kegiatan yang menumpuk di tambah harus mempersiapkan materi, achhhhhh rasanya kepala ini mau pecah, tapi aku tak boleh menyerah, walaupun ‘abdan yang menjadi saingan ku adalah anak oriskor (kelompok anak-anak yang ikut kursus pidato).

                        Ini kesempatan untuk mencetak prestasi terakhir kalinya, jika gagal di tahun terakhir ini maka benar tak ada kesempatan lagi, panggung itu belum ku lumpuhkan, ku siapkan materi yang hanya sekedar, hanya membahas tentang dosa, dibumbui tentang perperangan muslim dan amerika, kutambah kan syair Abu Nawas di belakang nya, ingin kuceritakan tentang kegagalan yang sesungguhnya sepanjang hidup ku, padatnya jadwal latihan karena menjadi panitia,sangat sedikit waktu untuk berlatih pidato menguasai materi ku, lawan-lawan yang begitu berat….

Bersambung……         




Senin, 20 September 2021

TRUE STORY (PART I)

            Malam itu aku terbangun, untuk pertama kalinya di keheningan tanpa orang tua, itu hari pertama ku di pondok, aku berfikir betapa buruk nya pondok saat itu untuk anak seusiaku, jujur saja malam itu aku menangis melihat kami tak saling kenal yang tidur beralas kan tikar tanpa orang tua, dan sampai sekarang jika mengingat hari itu aku juga hampir menangis, ternyata sudah cukup lama waktu berlalu, tapi memori masih selalu terbayang, ingin rasanya mengulang lagi tapi tak mampu, kuceritakan ini untuk melampiaskan kerinduan pada hari hari yang telah berlalu di pondok yang awal nya ku anggap hari buruk tapi justru menjadi hari yang sangat ku rindukan (2007).

Saat pembagian kelas, kudapati nama ku tercantum di kelas 1 F, wali kelas pertama saat di pondok Ustadz Irfan Syahputra dari swiss (sawit seberang) begitu tutur beliau kepada kami saat perkenalan di kelas, guru yang ramah dan cukup baik, begitu padatnya jadwal kegiatan di pondok sampai-sampai banyak dari teman-teman ku yang tak betah, aku pun demikian, tapi jika mengingat orang tua rasanya tak ingin mengecewakan mereka, aku sangat tak suka dengan hari kamis, pagi harus ke sekolah, sambung muhadhoroh sebelum zuhur, kemudian pramuka setelah dzuhur, hanya ada waktu sore untuk untuk bebas, bisa berolah raga dan menyuci atau istirahat, aku memilih berolah raga saat sore, tapi achhhhhh sial nama ku di masuk mahkamah bahasa karena ada yang mendengarku berbahasa Indonesia yang dasar karena masih kelas satu, gagal olah raga dan malamnya sambung lagi muhadhoroh.

Mata ku tertuju pada  papan pengumuman di samping asrama Indonesia 1, akan ada perlombaan Lomba Pidato 3 Bahasa (LP3B), setiap santri boleh ikut serta, ada tiga kriteria  perlombaan  bahasa dan kita hanya boleh memilih satu bahasa saja, ada bahasa Arab, Inggris dan Indonesia, aku tertarik untuk mengikuti perlombaan ini, malam itu langsung mendaftar di qismul lughah (bagian bahasa), sesuai arahan jumat depan seleksi pertama, dalam waktu seminggu harus mempersiapkan teks pidato untuk seleksi dan di periksa oleh qismul lughah, bukan hal yang sulit karena sebelum masuk pondok aku sudah terbiasa menjadi perwakilan sekolah untuk ikut serta  dalam perlombaan pidato bahasa Indonesia.

Jumat itu muhadhoroh diganti dengan seleksi lomba pidato, materiku sudah siap dan mental ku pun siap, di gedung Al azhar siang itu wajah ku seketika berubah melihat saingan saingan yang juga abang kelas ku membawa kan materinya yang begitu menarik dan juga cara pembawaannya yang enak, mati lah aku yang hanya anak baru harus bersaing dengam abang-abang kelas,  tapi aku merasa yang sudah punya pengalaman ketika di bangku SD terlalu optimis untuk hal ini, ternyata tak semudah yang kubayangkan, aku tidak lulus seleksi, pun tidak putus semangat, aku merasa wajar karena saingan ku sudah terlebih dahulu belajar muhadhoroh, mereka yang lulus hari itu ternyata harus ikut seleksi kedua untuk bisa tampil di panggung besar dan disaksikan seluruh santri dan santri wati, suatu kebanggaan untuk kaum adam di pondok.

Hari perlombaan tiba, malam jumat setelah sholat isha seluruh santri berbondong-bondong menuju Gedung Serba Guna, aku bersama Latif, Rijal dan Sabri pun masuk ke Gedung itu, sejak malam itu, melihat panggung yang begitu megah, aku merasa tahun depan aku akan ada di atasnya, Latif,Rijal dan Sabri akan menonton ku dari bawah, santri wati pun semua melirik ku dan kenal dengan ku dalam khayalku akan seperti itu tahun depan, terus kuperhatikan bagaimana cara mereka berpidato di atas pentas seperti sudah terlatih sekali mereka, terus ku perhatikan dan sedikit-sedikit mempelajarinya, benar akhi Ikhwan yang menjadi saingan ku di seleksi pertama menjadi juara satu di LP3B Bahasa Indonesia tahun itu, namanya cukup popular setelah itu, dan itu aku tahun depan.

Hari terus berlalu,teman pun bertambah semakin banyak dari daerah-daerah yang tak pernah ku dengar sebelumnya, entah dari mana mereka berasal, tapi aku yakin mereka punya niat yang baik, punya mimpi yang berbeda-beda, tahun itu aku terus belajar dan tak lupa Panggung LP3B akan menanti ku ada di atas nya, aku sudah mulai menyiapkan materi setahun sebelum perlombaan diadakan lagi, hari-hari rasanya semakin cepat berlalu, itu pula yang kuharapkan agar LP3B segera di adakan lagi, karena butuh waktu setahun untuk menanti hari itu.

Setahun setelahnya benar LP3B kembali di buka, seperti biasa aku daftar di qismul lughah, tapi kali ini aku sudah kelas 2 Tsanawiyah, begitu yakinnya aku sehingga ketika seleksi pertama pikiran ku buyar dan materi yang sudah ku persiapkan berantakan, dengan rasa kecewa aku pun tidak lulus seleksi untuk kedua kalinya,  tapi tak membuat ku putus asa, aku merasa ada yang kurang, mungkin materi yang kubawakan terlalu biasa, tapi setelah LP3B tahun itu, aku menyiapkan materi yang lebih menantang, dalam hati “mungkin belum tahun ini, tapi tahun depan”.

Ternyata hari-hari di pondok begitu menantang, bisa lolos dari kejaran qismul amni (bagian keamanan) karena telat ke mesjid atau berpura-pura sakit di kamar, dapur yang tertib yang bagian dapur nya tidak akan memulai makan sebelum semua nya diam dan tak ada suara satu pun, bagaimana bisa mendiamkan ribuan orang dengan pengurus yang hanya beberapa orang saja, ternyata ancamannya makan tidak akan di mulai sebelum semua diam, setelah semua diam mulailah “bismillahirrahmanirrahim” diikuti seluruh santri untuk membaca do’a sebelum makan dan semua makan, mudah kan untuk menenangkan ribuan orang.

Suatu hari dikelas aku bertemu dengan guru fisika yang begitu cantik, sekarang aku tidak ingat namanya, tapi hari itu dia guru baru yang mengajar fisika di kelas ku, sejak hari itu aku mulai suka dengan pelajaran fisika, aneh nya setelah bertahun-tahun entah kenapa hari ini aku mulai suka dengan fisika, guru itu yang ku panggi ustadzah selain paras yang cantik juga punya cara mengajar yang unik dan begitu ramah, hari-hari berikutnya ustadzah itu bercerita tentang rumus kecepatan, dan katanya menurut Albert Enstein kecepatan yang paling cepat adalah cahaya, kemudian di contohkan oleh ustadzah dengan mengetek –ngetek  tombol lampu, membuat ku penasaran jika kecepatan yang paling cepat adalah cahaya kemudian bagaimana nabi SAW isra’ dan mi’raj dalam waktu semalam, saat ini aku sudah kelas 3 Tsanawiyah, kata orang masa puber, mungkin iya makanya di otak ku penuh dengan pertanyaan, tak sempat bertanya bel berbunyi pertanda jam pelajaran selesai, jam istirahat ku beranikan diri menghampiri ustadzah itu sendiri di kantornya bertanya bagaimana Enstein mengklaim kecepatan cahaya adalah yang paling cepat sedang nabi SAW isra’ dan mi’raj dengan buraq, sambil senyum manis ustadzah itu merogoh tas nya dan meminjamkan sebuah buku fisika tentang Albert Enstein.

Aku mulai terfikir tentang sebuah judul untuk materi ku tahun ini, “ENSTEIN DALAM AL QURAN”, tapi aku harus butuh waktu panjang untuk mempelajari buku ini, ada rumus yang tak bisa ku jelaskan disini bahwa ada yang lebih cepat dari cahaya, yaitu apabila masa terabaikan, oleh karenanya Isra’ Mi’raj tak terbantahkan kebenarannya, tapi ada rumus juga yang tak ingat untuk kujelaskan, setelah berusaha untuk waktu yang lama, menemukan sebuah judul yang menarik dan akhirnya waktu itu tiba, penantian selama setahun, obsesi untuk naik ke panggung besar, gagal di tahun pertama dan kedua, tapi kali ini harus bisa, akhirnya aku lolos seleksi pertama, tak lama kemudian aku pun lolos di seleksi kedua, sialnya tahun ini karena terlalu banyak yang mendaftar akhirnya ada seleksi ketiga ,dan dengan penuh keyakinan aku siap dengan optimis karena judul yang ku persiapkan setahun sebelum perlombaan, ustadz yang menjadi juri semua terpukau dan memuji judul dan isi materiku, tapi semua orang juga tau kalau itu saja belum cukup, pembawaan yang masih kurang baik, tapi akhirnya kalian tahu? Di tahun ketiga pun panggung itu belum ku taklukan , poin sedikit kurang dari teman seangkatan ku, kata ustadz itu, pembawaan yang masih kurang.

Malam itu benar aku kecewa  dan hari LP3B pun di mulai, di kejauan kulihat panggung itu serasa megah, di tambah gedung ruqoyyah yang mnyelimutinya, tahun ini LP3B di adakan di luar gedung serba guna, aku hanya bisa melihat singa singa mimbar di kerumanan santri yang menonton .

Bersambung…..

 


Selasa, 14 September 2021

MAUT ITU HANYA DALAM TUJUH HARI INI

            Malam itu sekitar pukul 19:26 Wib berbunyi dering suara handphone  pertanda ada pesan masuk, ternyata ada pesan dari group IKRH memohon doa untuk kesembuhan ibunda Komandan Ginting, setelah beberapa saat sekitar pukul 01:09 Wib kabar duka kami terima melalui pesan whatssapp group, Innalillahi wa inna ilayhi roji’un, warga IKRH turut berduka atas berpulangnya ibunda dari TAMRIN HUSNI GINTING (Komandan Ginting), duka yang sangat mendalam  setelah belum lama ini kabar duka juga kami dengar dari ustadz kami  ustadz Joni.

Seperti biasa warga IKRH akan mengadakan kunjungan ke kediaman duka seperti sebelumnya di kediaman ustadz Joni,  kali ini kembali berkumpul di kediaman Komandan Ginting untuk mendoakan ibunda beliau, sepenggal kisah beliau pernah terselamatkan dari kecelakaan pesawat yang menewaskan semua penumpangnya, seharusnya Komandan kami itu ada di dalamnya untuk penerbangan menuju Jakarta bersama teman beliau yang sudah almarhum, almarhumah ibunda Komandan melalui mimpi dan naluri seorang ibu melarang Komandan Ginting untuk berangkat dan di patuhi oleh beliau, dan benar! Belum lama pesawat lepas landas kecelakaan pun terjadi, mungkin momen ini sangat menjadi sejarah bagi beliau, ceritanya panjang nanti kita sambung ya heheh….

Siang itu sambil menunggu yang lain tiba di tempat, kami asik bersenda gurau untuk menghibur sedih yang di rasakan ahlul bait, ya biasalah gurauan ala Raudhah, setelah semua hadir Akhi Hendrijal mulai membuka acara diawali dengan istighfar dan lain lain, do’a seperti biasa akhi Irhamuddin dan tausiah dari ustadz Joni Asman,  tapi setelah do’a belum sempat tausiah Azan Ashar berkumandang dan kami bersama bergegas ke mushola untuk berjam’ah.

Tapi sebenarnya saya tak ingin ceritakan tentang hari itu, tapi Akhi Irhamuddin meminta saya menulis seminggu sekali , siap perintah senior ! disambung oleh Akhi Hendrijal yang ingin namanya juga ikut serta dalam tulisan ini, walaupun sebenarnya itu hanya guyonan, tapi saya ingin cerita sedikit tentang sosok orang Aceh Tenggara satu ini, yang juga senior saya di IKRH, menurut saya humor nya kelas atas , yang paling saya ingat adalah, “beliau itu gak lama lagi (umurnya), pasti dalam tujuh hari ini” kata akhi Hendrijal,  langsung di patah kan oleh ustadz Joni, “eh jangan lah begitu ente jal” dengan raut wajah serius ala-ala Kepsek dengan santai menjawab “serius ana ustadz, bisa ana pastikan” semua terdiam sejenak kemudian disambung lagi oleh Akhi hendrijal “yak an betol ustadz dalam tujuh hari ini, dari senin sampai minggu memang ada hari selain tujuh hari ini” suasana pecah dan setiap dia hadir selalu memutar perut untuk ketawa, dan tadi itu humor kelas atas kita dipaksa berfikir lima menit lalu tertawa, selain humor saya yakini itu bagian dari dakwah untuk mengingatkan teman teman bahwa mati itu tinggal tujuh hari lagi, jadi pastikan kita semua untuk chat group minimal seminggu sekali setidaknya pertanda kita belum mati minggu ini hehehehe…..

Sambung lagi ke mushola saat sholat berjama’ah saya menjadi makmum di belakang, pemandangan luar biasa dan momen paling saya hargai, saya di imami oleh teman saya Dicky Zulkarnain, berdarah Indonesia dan china, parasnya percis china, kami berteman sejak TK, SD dan sambung di Pesantren, kata Akhi Irham memang betul dunia tak selebar daun kelor, saat itu benar saya terharu, saya kagum dengan sosok satu ini, seperti nya hidup nya penuh dengan pembelajaran, menimba ilmu kesana-kesini, dari Sumatra ke pulau Jawa menyelesaikan tahfizd Qur’an sambung ke Negri Jiran Malaysia tak henti lagi menyambung ke Madinah , bahkan kuliah di dua Universitas berbeda dan di dua Negara berbeda dalam waktu bersamaan, bagaimana bisa  seperti itu jika bukan dengan niat yang baik, dan bagaimana saya tidak terharu karena akan sesekali berjumpa beliau, dengan keilmuan dan pengalaman, bagaimana bisa saya tidak terharu saat menjadi makmumnya, rasanya ingin ulangi waktu Ashar kembali.

Banyak lagi yang hadir siang itu , setelah berjamaah kami kembali menikmati silaturahmi di kediaman Komandan Ginting sambil melihat Faal dan Widad bermain di halaman , Akhi Azwar dengan percaya dirinya, Akhi Irham dengan motivasinya, Akhi hendrijal dengan humornya, ada Akhi Nuansa dan adiknya Azmi dengan keilmuan kedokteran mereka, Dicky Zulkarnain sang pembelajar, kemudian Bana dengan sikap dinginnya, Awi pun hadir lalu Arif dengan buku-bukunya, dan para ukhti-ukhti yang saya juga kurang tau nama antunna hehe, kita bertemu dan di persatukan dalam IKRH, jikalah di akhirat nanti masuk surga dengan berkelompok-kelompok dan saya tak terlihat, tolong carikan saya dan igatkan kepada malaikat nya Allah bahwa saya bagian dari antum antum sekalian!




PKU Angkatan 12 Aceh Tamiang

 Jam 07.00 wib tanggal 20 juni 2025 seluruh peserta Pelatihan Kader Ulama di wajibkan hadir di hotel Grand Arya Aceh Tamiang untuk register ...